SAMPAI DI SINI JUGA

Ngga pernah bayangin sebenernya, buat sampe di titik ini ....


Dengan segala lika-liku ku di IPM, pun sebenernya aku juga belum ngerasa maksimal ngasih buat IPM, rasanya duduk di kursi PP adalah suatu hal yang ngga mungkin bisa aku gapai. Bahkan saat menerima ucapan selamat, rasanya masih ada ganjelan; 


"Emang kamu pantes ada di sini?"

"Udah ngasih apa aja, kok tau-tau bisa di PP?"

Atau, " Ah kamu masuk PP, karena deket sama si A, atau si B."


Beberapa pertanyaan yang banyak ku lontarkan, pun omongan-omongan teman satu dan dua yang samar-samar ku dengar. Kadang membuatku juga jadi setengah hati untuk melaju, dan menggoyahkan semangat. Tapi kemarin, di tengah ke-tidakpercayaan diriku, ada satu pesan yang berbunyi gini;


Membaca pesan ini, rasanya seperti diberi energi lagi. Dibakar semangatnya lagi, dibangunkan lagi untuk tetap berdiri kokoh walupun banyak angin yang berhembus. Jika melihat ke belakang, mungkin ini hasil yang bisa aku petik. Ini momen yang Allah siapkan, meskipun harus merangkak dulu untuk berjalan ke arah sana.

Di hari pelantikan kemarin, rasa haru dan bangga-nya aku ke diriku sendiri menutup segala memori rasa sakitku dulu ber-IPM. Kalau kata Halimah, ini bener-bener pembalasan terbaik yang aku lakuin. 

Bismillah, semoga memang ini jodohnya, ini rezekinya. Aku sadar pelantikan adalah awal dari amanah ini berada di pundak. Amanah yang tentunya semakin berat dan luas, misi ke-bermanfaatan yang harus dirasa lebih banyak orang. Bismillah, minta doa dan restunya ya, teman-teman :))




Sebagai penutup, mengutip kata-kata dari Ketum; Mari memposisikan amanah seperti musuh. Kita berusaha untuk tidak berpapasan dengannya. Tapi, jikalau musuh datang menghadang, kita harus menghadapi. Begitupula amanah. Hakekatnya kita jauhi, tapi kalau ia mendekat dan menuntut diselesaikan, bismillah hadapi lalu tuntaskan.

Comments