HANYA PERLU WAKTU

Flashback

Aku menghabiskan masa masa kecilku di Bandung. Bersama engking, enin, mamah, dan sepupu sepupu ku yang sepantaran.
Bapak waktu itu sedang kerja di lokasi yang jauhhhh sekali dari Bandung, bukan di Indonesia lebih tepatnya.
Bulan pertama bapak disana, beliau nanya aku mau minta apa? Seingetku karena aku waktu kelas satu SD lagi suka sukanya menggambar, akhirnya aku jawab saja pewarna.
Dua minggu kemudian, pewarna ku sampai di rumah. Senang sekali rasanya. Aku bawa kemanapun aku pergi, lebih sering menggambar dengan pewarna baru-ku.
Seminggu berlalu, aku memindahkan pewarna dari tas ke meja belajar. Mulai bosan.
Dua minggu berlalu, aku sudah jarang menggambar, bahkan lupa punya banyak macan pewarna yang ku simpan di meja belajar.
Dan lama lama, aku udah ga pernah menyentuh pewarnaku.

Aku kecil bukanlah tipe anak anak yang suka merengek meminta mainan kepada ibunya. Aku sama sekali tidak berkeinginan untuk mempunyai boneka seperti anak anak lainnya. Entah kenapa, tapi ya ngga pengen aja hehe.
Sampai di suatu hari ada pak pos biasa yang bawa kiriman dari Bapak.
Waktu aku buka, ada sebuah boneka bayi, dengan baju nya berwarna kuning, yang kalau ditekan di posisi tengah si bayi ntar bakalan keluar suara tangisan bayi gitu, ah lucu overload. Aku jatuh hati pada boneka pertama-ku.
Sama seperti pertama kali ku mendapatkan pewarna ku, boneka ini pun ku bawa kemana mana, pamer ke temen temen lainnya, selalu ku gendong dan kunyanyikan nina bobo hehe.
Bedanya dengan pewarna, boneka ku ini lebih bertahan lama, satu tahun.
Iyaa seingetku se-lama itu ku ngerawatnya. Sampai akhirnya, diganti dengan dengan pernak pernik anak kelas 3 SD. Boneka ku simpen diatas lemari. Sampai datang dimana ku harus pindah ke Jogja, membawa semua barang barangku. Meminimalisir bawaan dengan banyak pertimbangan apa saja yang aku butuhin di Jogja.
Pewarnaku? Jelas ku tinggal, dan memilih tuk di ikhlaskan menjadi mainan sepupu ku yang lebih muda. Melupakkannya.
Boneka bayi-ku? Ku memutuskan tuk tetap membawa nya.
Di jogja, sama saja ku menyimpannya di atas lemari, tak kumainkan lagi, melainkan sebagai hiasan kamar saja.
Beberapa tahun kemudian, aku udah kelas 6 SD, disibukkan dengan berbagai les di sekolah dan main bareng temen temen.
Di suatu siang sehabis pulang sekolah, dirumah kedatengan tamu sodara yang punya anak kecil yaa 3 taunan lah umurnya. Ku seneng banget, kuajak main main di kamar. Sampe dimana dia nunjuk nunjuk boneka bayi-ku. Aku ambil dan kasih ke dia, dia seneng gitu senyum senyum. Sampe mau pulang boneka bayi-ku masih digendong gendong, dan lama kelamaan aku makin resah wkwk, aku takut kalau dia bawa boneka pertamaku. Akhirnya dengan terpaksa aku minta boneka bayiku kembali dengan membuat si ade rissa nangis, maafinn ya dek ;")
Selang beberapa tahun, aku sekolah dan ber-asrama. Jika pulang pun, aku tidur bareng bapak, mamah, dan ade. Jadi jarang tidur sendiri di kamar. Sampai ga kerasa banyak sekali barang barang yang sudah aku pantas loakkan hehe.
Di minggu pagi, aku beres beres kamar dan memilih barang barang apa saja yang bisa aku sumbangkan dan barang barang apa saja yang mau aku pertahanin*ceilah.
Si mamah tau tau milih boneka bayi ku itu masuk ke daftar barang yang disumbangkan.
Dan aku menjawab iya, lagi lagi mengkhilaskannya dan sebenernya ngerasa udah cukup masanya untuk aku punya boneka itu. Akhirnya ku kehilangan boneka pertamaku.

Dari dua barang diatas, aku baru berfikir kalau semuanya ya bisa dilupain. Semua bisa diikhlaskan bahkan bisa menjadi "biasa saja" disaat sudah tidak di tanganku sekalipun.
Yang tadinya kupegang erat, kupeluk hangat, buktinya hanya butuh waktu saja untuk merubah segalanya.
Hanya perlu waktu, se-sederhana itu.

Comments

Popular Posts